BERJALAN BERSAMA HAMBA-HAMBA MARIA

PERINGATAN 790 TAHUN KEHADIRAN ORDO HAMBA-HAMBA MARIA DI DUNIA.

[Publikasi bulanan “untuk menyampaikan bagaimana seharusnya menjalani petualangan spiritual kita  bersama. Sebuah pengalaman yang  menarik (atau paling tidak, “seharusnya” menarik bagi semua orang)”  (Pater. David M. Turoldo)]

Pada abad ke-13 ada seorang pria yang sangat kudus bernama BONFILIUS

Mereka telah memanggilmu menuju Bejana Pembaptisan, yang menubuatkan bahwa engkau akan menjadi yang tersaleh dari semua anak. Oleh karena itu engkau dipilih sebagai pemandu pertama Keluarga Religius, tempat engkau menjadi Hamba Pertama.
   
Aku tidak tahu apa-apa tentang kisah masa mudamu, aku pun tidak tahu apa-apa tentang sejauh mana penyangkalan dirimu: apakah engkau meninggalkan jaring seperti Petrus, atau sebuah warisan. Ketika seseorang melepaskan 'sedikit' dari hati, itu sama saja dengan 'banyak', sebab ukuran atas seberapa banyak seseorang melepaskan adalah cara kita melepaskan diri dari berbagai hal. Bukan pengalaman duniawimu yang membuatku tergerak, melainkan petualangan rohanimu yang terpadu dengan petualangan rohani keenam saudaramu yang lain.

Apakah gerangan yang mendorongmu meninggalkan Florence, kotamu yang menyenangkan itu? Apakah persahabatan, cinta, atau figur? Selanjutnya, sudah barang tentu (engkau mengalami) perpisahan yang definitif dengan darah, bahkan dengan darah itu sendiri, yang mencabut ikatan dengan saudara-saudara kandung. Kekuatan Agung Surga melawan kekuatan Bumi yang fana, suara-suara ini menerobos masuk ke dalam hati manusia, hati yang bergemuruh lebih keras dibandingkan gemuruh sebuah cangkang bintang laut yang menabrak pantai laut yang tak pernah tenang.
Namun, tak satu hal pun menghalangimu mendaki Senario sembari bernyanyi, kamu sekalian yang disebut "para pemuji", pengembara, penyair baru Sang Bunda Mulia. Kemudian, dari sana, dari Gunung Transfigurasimu, apakah gerangan yang menarikmu ke 'sini', ke dunia kami, ke tempat kamu sekalian turun sambil menari?

Jeritan perbudakan kami, tontonan perselisihan dan ketidakadilan kami, inilah yang telah membawamu ke dalam dunia kami. Tetapi tentu saja, pertama-tama engkau digerakkan oleh Suara-Nya dari atas Salib, baru kemudian oleh rasa belas kasihan atas derita kami; pertama-tama oleh keinginanmu yang tak terbatas untuk hidup dan bertahan hidup di dalam Dia, kemudian oleh kehendak membebaskan kami dari kemalangan. Demikianlah hidupmu yang sarat dengan pendakian dan turun dari ketinggian. Mendaki, namun tak lagi sendiri, bahkan membungkuk di bawah beban penderitaan kami, yang engkau pikul seolah-olah itu adalah bebanmu sendiri. Pertama-tama engkau turun dari puncak gunung, menyusuri pelukan lengan Sang Hyang Kekal yang menurun tegak lurus; kemudian terjun ke dalam segala dosa kami, seperti Kristus yang kehilangan segala kemuliaan-Nya, dan menjadi Hamba, bahkan Budak semua orang.

Dengan demikian, sebagai Pemimpin Kelompok, engkaulah yang turun dari Senario, mendahului saudara-saudara yang, sama seperti engkau, baru saja keluar dari “tujuh gua”, setelah bertahun-tahun menyiksa diri dalam matiraga dan hidup dalam keheningan. Engkau, yang paling dipercayai tanggung jawab yang membebani pundakmu, tetapi juga yang paling peka menanggapi pesan baru.

Bonfilio, demikianlah kini namamu disebut oleh para saudara, sebagai yang paling lembut (tentu saja tanpa menyinggung perasaan saudara-saudara yang lain). Barangkali karena kegembiraan dan ketakutan sekaligus kepedulian agar tidak sampai hilang dari pandangan, agar mereka tidak sampai kehilangan satu makna pun dari mimpi yang mereka miliki bersama. Doa-doamu dan doa-doa mereka yang penuh semangat membara sedang menanti Surga berbicara kepada mereka, doa-doa yang diselingirintihan derita Kristus yang terus-menerus mendaki gunung-Nya, seperti mendaki sebuah Kalvari baru, untuk melanjutkan karya penebusan, sementara semua orang merasakan kehadiran - katakanlah secara fisik - Bunda Maria, dalam keheningan, di kaki Salib.
    [Gambar yang dihormati di lorong kanan       Basilika Santo Petrus di Roma]

Engkau, yang berjalan di depan semua saudara lainnya, tentu saja, sedikit lebih bungkuk daripada yang lain, akibat beban misi yang begitu banyak. Ketika engkau berbicara dengan orang-orang yang kaukasihi, apakah yang kaukatakan kepada mereka? Dan, sebelum turun, kesan apakah yang kaurasakan tentang kota kami di dunia ini? Apakah engkau juga menangis, seperti Yesus menangisi nasib Yerusalem?

Gagasannya sederhana: "yang pertama dan terutama adalah mengasihi Tuhan dan kemudian sesama, inilah perintah utama yang diberikan kepada setiap orang". Itu benar, pertama-tama memang mengasihi Allah, sebab Allah ADA di dalam dirimu, Dialah yang menggendongmu, yang membuatmu tetap berdiri, yang membuatmu berjalan; kemudian mengasihi sesama, orang lain, siapa pun itu, yang harus menjadi 'dirimu yang lain’. Tetapi sesungguhnya ini adalah perintah tunggal, (yang harus dilakukan) bukan dalam dua tahap melainkan dalam satu tahap sekaligus, dan dengan demikian menggambarkan dua balok kayu yang bersandar satu sama lain membentuk “Satu Salib”, karena kasih. Ini adalah soal “momen yang tampak dan momen yang tak tampak”, yang satu membenarkan yang lain.

Inilah rahasia semua orang kudus, inilah instrumen interpretatif dari relasi mereka dengan waktu – yaitu dengan sejarah – dengan manusia sepanjang masa, dengan masyarakatnya, dengan Gerejanya. Oleh sebab itulah mereka selalu tampil sebagai kekuatan moral luar biasa yang berdampak besar pada masa kini, protagonis yang menentukan nasib dunia. Inilah perwujudan mandat menjadi manusia sezaman yang unik, baik dalam masyarakat maupun dalam Gereja, yang selalu siap sedia bertindak dengan kebebasan yang kreatif dan luar biasa, di dalam roh, dan, pada gilirannya, menjadi teladan manusia sezaman dalam masyarakat dan Gereja kita.

Mandatnya sederhana namun sangat mendasar: "Pergilah dan beritakanlah kepada semua orang Sengsara Putra-Ku, Dukacitaku, dan dengan demikian kamu akan mempertobatkan dunia."Inilah mandat Bunda Maria yang memanggil mereka tepat pada Jumat Agung, hari besar ketika "seluruh bumi menjadi gelap". Inilah alasan mendasar keberadaan para Biarawan "Hamba-hamba Santa Maria", mandat Kristus dan penyerahan diri Sang Bunda, yaitu Injil (seperti yang telah dilakukan oleh Fransiskus) menurut penafsiran Sang Bunda, yang telah memberikan “dagingnya” (tubuhnya) bagi Sang Sabda, sehingga menjadi “Gambaran Gereja yang hidup”. Injil dan ulah kesalehan, itulah satu-satunya Regula baginya. Seperti Santo Paulus yang tidak mengetahui apa pun selain Kristus dan "mereka yang tersalib". Dan kita … dengan program-program besar kita.

Bagaimana mereka mengikutimu? Engkau tidak perlu memberitahu mereka, tidak pula mewajibkan, namun mereka menaatimu, karena mereka semua sama-sama melayani dalam peneladanan yang kudus. Selanjutnya, masing-masing memiliki keberanian mengejar dan menghayati panggilannya sendiri secara mendalam.

Bunda Maria memberikan mandat agar kita tidak mendirikan biara dalam jumlah yang lebih banyak, tidak terlibat dalam gerakan-gerakan lain yang telah ada (sehingga lebih mudah mengontrol), tidak membangun “sarang-sarang” lain bagi jiwa-jiwa. Allah tidak pernah kehabisan akal. Dan engkau berkata: "itu adalah kehendak Surga". Kehati-hatian dan imanmu yang menang, dan kamu, Bonfilio, menjadi orang pertama yang tidak menyerah.

Dari warisanmu yang kaya inilah lahir kehidupan kita sebagai kerabat jauh.  Demikianlah Ordoku lahir pada tahun "Halleluya Agung", yakni ketika kamu sekalian, para pengembara baru, berangkat di sepanjang jalan-jalan Eropa untuk memberitakan tahun keselamatan dan perdamaian, setidaknya pengharapan akan perdamaian!

[Bonfilio Monaldi, Karya  Fray Faustino M. Faustini, yang disimpan di Biara penyelenggaraan ilahi, CDMX]

📝 Post by Fr. Remigius OSM dari Guadalajara, Meksiko 🇲🇽

Entradas populares de este blog

"DARI LADANG MENUJU ALTAR TUHAN: PERJALANAN SEORANG ANAK PETANI MENJADI PELAYAN TUHAN"

NATAL ADALAH KAMU

SURAT BIJAK DARI LEMBAH ST. JULIE BILLIART